Menguak Kisah Warga Albino di Kampung Ciburuy

KUNCEN Situs Ciburuy, Ujang Suryana bersama anaknya yang berkulit albino, saat dijumpai beberapa waktu lalu di kediamannya, Kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut./ foto: Kang Cep****

DRAMEDIA.ID,– Sekitar 20 kilo meter dari pusat kota Garut, tepatnya di bawah kaki Gunung Cikuray terdapat satu kampung yang terkenal dengan situs sejarah purbakalanya peninggalan zaman Hindu Budha. Nama kampung tersebut adalah Kampung Ciburuy.

Kampung Ciburuy sendiri sebelumnya termasuk ke wilayah Desa Ciburuy, namun setelah dimekarkan, Kampung Ciburuy kemudian masuk ke wilayah Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Selain menyimpan sejarah kepurbakalaan, di Kampung Ciburuy ini juga memiliki ciri khas yang unik, yakni beberapa orang warganya di sekitar situs berkulit bule (Albino).

Sedikitnya ada enam orang warga Kampung Ciburuy yang berkulit albino, di antaranya Dewi Rosmanah anak dari pasangan  Ujang Suryana dan Siti. Ujang sendiri merupakan salah seorang kuncen atau juru kunci di Situs Ciburuy ini.

Biasanya orang yang berkulit albino merupakan faktor keturunan, namun di Kampung Ciburuy  tidak demikian. Keenam orang yang berkulit albino ini sama sekali bukan faktor keturunan, dan warga Ciburuy yang berkulit albino uniknya tidak seperti pemilik kulit albino pada umumnya, yang biasanya tidak tahan dengan sengatan sinar matahari. Mereka justru seperti masyarakat kampung pada umumnya yang biasa beraktifitas di bawah sengatan matahari.

Saat di jumpai dramedia.id beberapa waktu lalu di kediamanya, Ujang mengisahkan, di kampung Ciburuy sejak dahulu kala selalu ada tiga pasang warganya yang berkulit albino. Di antaranya selalu ada tiga orang perempuan dan tiga orang laki laki. Sejak dulu hingga sekarang selalu tetap ada enam orang tidak berkurang atau bertambah. Jika satu saat ada yang meninggal atau pergi dari Kampung Ciburuy, dipastikan akan ada warga yang melahirkan bayi yang berkulit albino hingga jumlahnya genap enam orang.

’’Muhun, abdi ge rada teu ka hartos. Mung ari saur sepuh kapungkur mah, sejarahna teh kantos aya urang Walanda ngadon zaroh ka Ciburuy, teras samemeh tapa mendakan sapasang buruy (kecebong) bodas. Tos kitu, saurna mah anjeuna jangji bade ngalap elmu ka Sunda’an, tah dina waktos tapa anjeuna kenging ilapat,’ mun hayang ngalap elmu kisunda kudu nyimpen ciri di ieu kampung kucara ngantelkeun jempolna kana beuteung nu keur hamil urang kampung Ciburuy. Tah, ti harita, teras terasan dugi ka ayeuna sok aya urang dieu (Ciburuy) anu ngalahirkeun orok bule (Albino)’’ kisahnya.

“Ya, saya juga kurang ngerti. Hanya saja menurut orang tua dulu, sejarahnya, begini pernah ada seorang warga Belanda yang berziarah ke Ciburuy terus mendapatkan sepasang kecebong (Buruy) puti. Sesudah itu, konon Ia (orang Belanda) berjanji akan mendalami ilmu Kesundaan. Nah, saat dalam pertapaannya orang Belanda ini mendapatkan ilham: ‘Jika ingin mendalami ilmu Kesundaan harus menyimpan tanda di Kampung (Ciburuy) dengan cara menempelkan jempolnya ke perut ibu yang sedang hamil di kampung ini (Ciburuy). Nah sejak saat itu, selalu saja di kampung ini ada ibu yang melahirkan bayi berkulit bule (Albino),” ungkapnya.

Menurut Ujang, sejak zaman itu hingga sekarang di kampung Ciburuy selalu ada enam orang warganya yang berkulit albino. Entah kisah ini fiktif atau benar adanya. Kisah warga Kampung Ciburuy yang berkulit albino ini sudah ada turun-temurun dari leluhur warga sekitar komplek situs sejarah purbakala di Kampung Ciburuy ini. (Cep)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.