Minimnya Apresiasi Sastra dalam Dunia Pendidikan

DRAMEDIA.ID,- Kondisi pembelajaran apresiasi sastra di sekolah-sekolah hingga saat ini belum memenuhi harapan karena masih tidak sesuai dengan hakikat dan tujuan apresiasi sastra. Hakikat dan tujuan apresiasi sastra hendaknya mengarahkan siswa untuk mengakrabi karya sastra. Siswa hendaknya diajak untuk membaca dan menikmati langsung karya-karya sastra. Namun yang terjadi, pada umumnya siswa lebih banyak diarahkan pada teori/ hapalan, sedangkan karya-karyanya tidak dibaca.

Hal ini mengakibatkan manfaat-manfaat dari apresiasi sastra itu tidak direguk oleh siswa. Padahal, sastra adalah sarana untuk membentuk karakter siswa. Sastra bisa mengasah kehalusan budi pekerti, kepekaan sosial,  kekayaan bahasa, dan tentu saja kekayaan wawasan dan pengetahuan.

Prihatin dengan permasalahan di atas, ketua tim Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, Nenden Lilis Aisyah M.Pd., mengatakan pelatihan apresiasi dan kreasi sastra bersama sastrawan di sekolah, untuk membangun sikap apresiatif, kreatif, dan berkarakter positif. Dengan menghadirkan sastrawan ke sekolah dan menampilkan karya-karya sastra diharapkan minat juga keakraban siswa pada sastra tumbuh. Kata Nenden kepada dramedia.id di SMP/SMK Persada Bayongbong. Senin (25/11/2019).

“Program ini direncanakan akan berlangsung berkesinambungan. Sekolah yang pertama dipilih untuk pelaksanaan program ini adalah SMP dan SMK Persada Bayongbong Garut dengan melibatkan 200 siswa. Sekolah tersebut diprioritaskan karena terletak di wilayah pinggiran yang nota bene kurang mendapatkan akses dan fasilitas dibandingkan sekolah-sekolah di perkotaan.” Ujar Nenden.

Ia menambahkan, Kegiatan ini diawali dari pelatihan kreasi sastra terhadap siswa selama 3 hari, kemudian hasil kreasi ini ditampillkan dalam acara puncaknya bersamaan dengan penampilan para sastrawan dari berbagai genre (puisi, prosa, dan drama) sebagai narasumber yang mempertunjukan karya-karyanya serta berbagi ilmu dan pengalaman terkait sastra dan penulisannya.

Para sastrawan yang tampil adalah Nenden Lilis A. (sastrawan kelahiran Garut yang karya-karyanya banyak dimuat berbagai media massa nasional dan internasional serta berbagai buku antologi canon sastra Indonesia, peraih penghargaan Pusat Bahasa 2005, dan kerap diundang tampil di berbagai festival sastra Internasional), Katherina Achmad (sastrawan yang juga jurnalis dan pelukis kelahiran Palembang. Karya-karyanya berupa novel dan puisi tersebar di berbagai media massa dan memenangkan berbagai lomba), dan Ari Kpin (tokoh musikalisasi puisi yang telah menghasilkan buku Musikalisasi Puisi (Tuntunan dan Pembelajarannya), 12 album musikalisasi puisi, menjadi sastrawan yang dijadikan narasumber oleh kemendikbud dalam pelatihan sastra tingkat nasional bagi guru-guru, dan berkeliling ke berbagai sekolah di berbagai provinsi di Indonesia untuk mengakrabkan siswa pada sastra dengan musikalisasi puisi).

Dalam acara ini pun tampil Apung S. Lukman membawakan monolog dan Dery Saeful Hamzah sebagai pembaca puisi. Acara ini juga dipandu oleh Zean Elene Sangkadila (mahasiswa Depdiksatrasia UPI).

Acara yang berlangsung di SMP/SMK Persada dengan Kepala Sekolah SMP Herdi Mulyana, M.Pd., dan Kepala Sekolah SMK Iman Tasdik, S.Pd., ini berlangsung meriah. Ada 10 penampilan berupa pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan tari oleh para siswa yang tampil dengan apik dan mendapat respon meriah dari hadirin. Begitu pula penampilan para sastrawan yang direspon dengan penuh antusias oleh para siswa. Mereka tidak beranjak hingga acara selesai.

“Tak disangka, di kaki Gunung Cikuray, ada potensi sastra sebagus ini.” demikian diungkapkan Abah Zaenal, budayawan Garut yang turut diundang dan menghadiri acara ini menyatakan kekagumannya.

”Hal ini menjadi picu bagi kita semua bahwa jika mendapat sentuhan yang tepat, potensi siswa yang selama ini terpendam akan muncul. Potensi siswa hendaknya tidak disepelekan. Buktinya, dari sebuah sekolah di kaki gunung Cikuray yang menurut kepala sekolahnya rata-rata siswanya berasal dari keluarga sederhana, terlihat oleh kita melalui acara ini, potensi-potensi siswa yang luar biasa. Dari kegiatan apresiatif dan kreatif, semoga terbangun karakter positif.” Jelasnya. (HYG/ARI)***

Satu tanggapan untuk “Minimnya Apresiasi Sastra dalam Dunia Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.