P2TP2A Garut Lakukan Pendampingan 61 Kasus Anak di Tahun 2018 – 2019

DRAMEDIA.ID,- Sebagai salah satu lembaga yang melaksanakan perlindungan terhadap anak, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut telah melakukan pelayanan pendampingan kasus anak. Setidaknya lembaga ini telah melayani pendampingan untuk 40 kasus pada tahun 2018 dan 21 kasus pada tahun 2019.

Demikian diungkapkan Diah Kurniasari, Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, sebagai key note speaker pada acara Webinar dalam Rangka Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat Kabupaten Garut, di Gedung Command Center Garut, Sabtu (18/07/2020).

Menurut Diah, umumnya kasus yang dihadapi adalah masalah seksualitas, kenakalan remaja, anak jalanan, dan kematian bayi.

“Ada pula kasus anak berhadapan dengan hukum, anak berkebutuhan khusus, DO (drop out) sekolah dan bullying (perundungan),” ungkap Diah.

Selain pelayanan pendampingan, imbuhnya, P2TP2A juga melaksanakan rehabilitasi dan pemberdayaan bagi anak dan perempuan korban kekerasan, bekerjasama dengan pihak berkompeten. Atas kiprahnya ini, P2TP2A Kabupaten Garut tahun 2017 mendapat predikat Cluster Maju dan Cluster Responsif di tingkat Jawa Barat, dan kini memiliki sekretariat di Komplek Sosial Centre, Jl.Patriot, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul dengan fasilitas rumah aman dan kendaraan operasional.

Baca juga:

Diah mengakui, perlindungan terhadap anak di masa pandemi Covid-19 ini masih belum sepenuhnya dapat dilakukan dengan optimal berpihak pada kepentingan terbaik anak.

“Beberapa dampak negatif bagi anak antara lain, kehilangan pengasuhan, mengalami kekerasan (verbal dan non verbal), berkurangnya kesempatan anak untuk bermain, belajar, dan berkreasi akibat diterapkannya kebijakan jaga jarak maupun belajar di rumah,” ujar Diah dihadapan 300 an peserta dari Garut, dan luar Garut, termasuk dari Pontianak, Makassar, Wonogiri, Bulukumba, dan lainnya yang antusias menyimak hingga akhir.

Sebagai orang tua dan insan yang peduli terhadap anak, Diah berharap agar anak-anak, yang karena situasi pandemi ini tetap dapat bahagia di rumah sesuai tagline peringatan HAN tahun ini “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”.

Sementara itu, Ketua Umum LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) yang juga Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi, mengemukakan, saat ini yang diperlukan dalam pendidikan meliputi agama dan keterampilan sosial, seni-budaya, olahraga dan kerjasama, dan kreativitas.

Menurutnya, kebijakan belajar disekolah harus mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan anak, sehingga dalam upaya meningkatkan efektifitas belajar dirumah maka disarankan kepada orang tua untuk menciptakan suasa belajar yang nyaman dirumah dan sekolah mengembangkan kurikulum yang tidak berat agar tidak menekan psikologis siswa dirumah.

Kak Seto, demikian kerap dipanggil, mengingatkan, di masa pandemi ini agar menghentikan kekerasan, sebaliknya ia mengajak orang tua untuk mendidik anak dengan kekuatan cinta.

Ia juga menyarankan agar pemerintah melibatkan masyarakat, bahkan sudah saatnya hingga pemerintahan setingkat RT perlu dibentuk Seksi Perlindungan Anak.

Webinar dengan tema “Perlindungan dan Pendidikan Anak di Masa Pandemi Covid-19” dimoderatori Ike Kania – Pemerhati Anak dari Universitas Garut, dan dipandu Laras Annisa.***Yan

One thought on “P2TP2A Garut Lakukan Pendampingan 61 Kasus Anak di Tahun 2018 – 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.