Mengenal Sosok DJ Veronica Lee, Mojang Cantik Asal Garut

loading...

DRAMEDIA.ID,- Berkarir menjadi seorang Disc Jockey (DJ) kini tidak lagi memandang gender. Kini, seorang perempuan pun bisa menikmati karirnya dengan menjadi seorang DJ tanpa harus dipandang negatif, karena seorang DJ memiliki banyak tipe. Aksi memilih dan memainkan rekaman suara untuk pendengar yang menginginkan adalah sama untuk setiap DJ. Musik yang dipilihnya, Media yang digunakan, dan tingkatan kesempurnaan dari manipulasi suara adalah faktor-faktor yang membuat tipe DJ yang berbeda-beda.

Seperti yang dilakukan oleh DJ Veronica Lee. Wanita cantik asal  Garut dengan nama asli Irma Veronica (28), telah berkarir menjadi seorang DJ sejak tahun 2015 ketika dirinya duduk di bangku kelas 2 SMA, ia termotivasi untuk mengikuti jejak sang kakak DJ Jay.

Veronica mengatakan, dirinya tertarik dan merasa tertantang untuk mengulik musik-musik genre dance agar menjadi sebuah alunan yang enak untuk didengar. Menurutnya, seorang DJ harus bisa terampil menyusun lagu agar pendengar bisa terbawa dalam alunan musik.

“Sudah enam tahun terakhir ini menekuni profesinya sebagai seorang female DJ, dan sudah sering melakukan show di berbagai kota besar di Indonesia. Sebut saja seperti Denpasar, Pekanbaru, Batam, dan juga Kupang yang sudah pernah disinggahi.” Kata DJ Veronica kepada dramedia.id di Cleopatra Resto & Coffee. Sabtu (30/03/2021).

Karena kecintaan terhadap musik dansa elektronik, membuatnya bergabung dengan salah satu sekolah DJ di Bandung tahun 2013. Veronica belajar menjadi seorang DJ profesional di Ijoel DJ School Bandung. Dirinya merasa beruntung bisa belajar menjadi DJ lewat sekolah DJ karena bisa menambah wawasan mengenai dunia DJ ini secara luas.

“Selain itu juga, saya mempelajari dasar-dasar dalam bermain DJ seperti pengenalan alat dan instrumen, kemudian pengenalan dasar terhadap genre musik. Selesai menempuh pendidikan di Ijoel DJ School, saya mendapat banyak undangan di berbagai acara. Sebagai seorang DJ pemula, saat itu banyak mendapat undangan dari kegiatan komunitas otomotif, pentas seni kampus, dan juga acara ulang tahun.” Ucapnya.

Ia menuturkan, dirinya memiliki sebuah pengalaman unik di mana saat tu masih belum memiliki peralatan DJ. Sebagai seorang DJ pemula, saat itu masih diberi honor dengan jumlah yang tidak terlalu besar. Namun dengan keinginan yang kuat untuk menjadi DJ profesional, dirinya mulai mengumpulkan hasil dari manggungnya tersebut untuk bisa membeli seperangkat instrumen DJ sendiri.

Sementara itu, ditempat yang sama sang kaka DJ Jay menjelaskan aksi fisik daripada seorang DJ adalah memilih dan memainkan rekaman-rekaman suara disebut deejaying, atau DJing dan cakupan kesempurnaan dari memainkan secara sederhana satu seri rekaman-rekaman, terkait pengacaraan, atau menyusun sebuah daftar putar, sampai memanipulasi rekaman-rekaman, menggunakan berbagai teknik seperti pengadonan audio, pengisyaratan (cueing), pemfrasean (phrasing), pemenggalan (cutting), penggesekan (scratching), dan penyelarasan ketukan (beatmatching), atau sering juga mengacu pada membuat komposisi musik asli.

“Ada berbagai macam teknik yang dapat diterapkan oleh seorang DJ untuk memanipulasi musik yang telah direkam sebelumnya. Di sini termasuk pengadonan suara (audio mixing), pengisyaratan, pengisyaratan selip (slip-cueing), pemfrasean, pemenggalan musik, penjugelan ketukan (beat juggling), penggesekan, penyelarasan ketukan, penjatuhan jarum (needle drop), penggeseran fase (phase shifting), dan masih banyak lagi.” Jelsnya. ***hyg

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.